Amran Akui MBG Kerek Harga Ayam-Telur usai Libur Sekolah

Jakarta, custombloggertemplates Indonesia

Menteri Pertanian (Mentan) Andi

Amran Sulaiman

mengakui program Makan Bergizi Gratis (

MBG

) ikut mendorong kenaikan

harga ayam

dan telur setelah penyaluran program kembali berjalan usai libur kenaikan kelas.

Pemerintah pun memastikan harga kedua komoditas tersebut dijaga agar tidak jatuh di bawah harga pembelian pemerintah (HPP).

“Iya (kenaikan harga ayam-telur karena MBG). Jadi gini, MBG adalah

offtaker

untuk produksi-produksi pertanian 160 juta petani, peternak, pekebun yang menjadi

offtaker

mereka. Jadi

offtaker

-nya MBG adalah

offtaker

-nya komoditas pertanian,” kata Amran di Kementan Jakarta Selatan, Senin (27/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Amran mengatakan berdasarkan laporan Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat Indonesia (Pinsar), harga ayam dan telur mulai mengalami kenaikan dalam sepekan terakhir.

Menurutnya, kenaikan itu terjadi setelah aktivitas MBG kembali berjalan menyusul libur kenaikan kelas, ketika penyaluran program sempat dihentikan selama sekitar tiga pekan hingga hampir satu bulan karena kegiatan belajar mengajar di sekolah belum berlangsung.

“Pinsar tadi melaporkan bahwasanya harga ayam, harga telur sudah naik. Tetapi, kami juga tadi pagi bersama Kepala BGN (Sudaryono) sudah sepakat menjaga harga komoditas pertanian, khususnya ayam dan telur,” ujarnya.

[Gambas:Youtube]

Ia menegaskan harga ayam dan telur tidak boleh berada di bawah HPP. Menurut Amran, harga pembelian pemerintah untuk ayam hidup ditetapkan sekitar Rp25 ribu per kilogram (kg), sedangkan telur ayam ras sebesar Rp26.500 per kg.

“Nanti dikontrol harganya tidak boleh di bawah harga pembelian pemerintah. Kalau harga ayam sekitar Rp25 ribu per kg dan harga telur Rp26.500 (per kg), itu harga pembelian pemerintah,” kata Amran.

Berdasarkan data SP2KP Kemendag, hingga pekan keempat Juli 2026, rata-rata harga daging ayam ras nasional mencapai Rp37.872 per kg. Angka tersebut turun 0,57 persen dibandingkan Juni 2026 dan masih berada di bawah harga acuan penjualan (HAP) konsumen sebesar Rp40 ribu per kg.

Sementara itu, rata-rata harga telur ayam ras nasional tercatat Rp29.242 per kg atau turun 3,21 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga tersebut juga masih berada di bawah HAP konsumen sebesar Rp30 ribu per kg.

Data tersebut turut menunjukkan penurunan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras terjadi di 50 persen kabupaten/kota di Indonesia. Sementara itu, IPH telur ayam ras turun di 73,33 persen wilayah.

Amran mengatakan pengawasan harga tidak akan melibatkan Satgas Pangan. Sebagai gantinya, Badan Gizi Nasional (BGN) akan mengawal agar Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG membeli kebutuhan ayam dan telur langsung dari peternak.

“Cukup BGN. Ternyata ada keliru selama ini. Ini harus SPPG atau dapur-dapurnya itu langsung, bila perlu langsung saja ke peternak (beli telur-ayam),” ujarnya.

Menurut Amran, selama ini terdapat pihak tertentu yang mengambil keuntungan dalam rantai distribusi komoditas tersebut. Karena itu, mekanisme pengadaan akan dibenahi agar harga yang diterima peternak tetap terjaga sekaligus memangkas rantai distribusi.

“Ada orang tertentu mengambil keuntungan. Nah, ini harus yang diberesin,” kata Amran.

(del/ins)

Add

as a preferred

source on Google

Baca lagi: Penundaan Merger Paramount-Warner Bros Diperpanjang

Baca lagi: Menlu RI Dorong ASEAN-Rusia Kerja Sama Ketahanan Energi hingga Pangan

Baca lagi: El Nino Super Diperkirakan Picu Kerugian Ratusan Triliun di Afrika

One Response

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kamu mungkin juga menyukai: